MataAnginNews.co.id, Fakfak — Fakfak kembali diguncang oleh sebuah peristiwa yang bukan sekadar gosip, melainkan potret buram integritas pejabat publik. Oknum anggota DPRD Fakfak berinisial T.H.R., yang dikenal dengan nama Tommy Rumagesan, digerebek bersama seorang bidan berinisial D.R.A. di sebuah rumah kos kawasan Mambruk, Minggu malam, 11 Mei 2026.
Namun, di balik fakta penggerebekan, muncul komentar satir dari Lex Wu, Direktur PASTI Indonesia, yang menyoroti konsistensi Tommy dalam warna kuning dan “kepedulian kesehatan” yang dijalankannya dengan cara penuh ironi.
Kronologi Kejadian
- Tanggal & Waktu: Minggu, 11 Mei 2026, sekitar pukul 19.00 WIT.
- Lokasi: Rumah kos milik salah satu anggota KPU Fakfak, kawasan Mambruk.
- Peristiwa: Suami sah bidan D.R.A., seorang anggota kepolisian, bersama kakaknya melakukan penggerebekan.
- Hasil: Video berdurasi 42 detik tersebar di media sosial, memperlihatkan Tommy mengenakan kaos kuning saat digerebek.
Lex Wu: Kesehatan Itu Utama
Lex Wu dengan gaya sakrasme menilai bahwa apa yang dilakukan Tommy hanyalah menjalankan pesan dokter: kesehatan itu utama.
- “Tommy memang luar biasa, urus masyarakat dengan sangat detail. Bu bidan saja diperhatikan dengan seksama, walau sudah bersuami,” ujarnya.
- Menurut Lex Wu, kegiatan bersama bidan itu bisa dianggap sebagai bentuk perhatian terhadap tenaga kesehatan.
Tommy Sang Dokter Tanpa Fakultas
Lex Wu melanjutkan dengan sindiran yang lebih tajam:
- “Mungkin selain menjadi anggota dewan, Tommy bercita-cita menjadi dokter. Tapi karena malas sekolah kedokteran, ia memilih jalur cepat.”
- “Biasa disuntik bidan, kali ini dia yang jadi dokter ‘mensuntik’ bu bidan,” tambahnya.
Sindiran ini segera menjadi bahan obrolan publik, yang menilai bahwa Tommy seolah membuka “program kesehatan alternatif” di luar jalur resmi.
Konsistensi Warna Kuning
Tak hanya soal “kesehatan”, Lex Wu juga menyoroti konsistensi Tommy dalam hal warna.
- Saat kampanye 2024 lalu, Tommy mengenakan seragam kuning untuk meminta dicoblos.
- Saat digerebek, ia tetap setia dengan kaos kuning, seolah warna partai menjadi identitas permanen.
- “Hebat, konsisten sekali. Waktu minta Suara Masyarakat dicoblos pakai kemeja kuning, waktu membuat bu bidan bersuara dengan mencoblos juga pakai Kaos kuning,” ujar Lex Wu.
Reaksi Publik
Fenomena ini segera menjadi bahan obrolan di warung kopi hingga media sosial.
- Ada yang menilai Tommy sebagai ikon kuning sejati, karena warna partai melekat di setiap momentum.
- Ada pula yang menyebut sindiran Lex Wu sebagai tamparan politik, mengingat pejabat publik seharusnya menjadi teladan, bukan bahan parodi.
- “Kalau kesehatan rakyat memang penting, seharusnya dijalankan lewat program resmi, bukan lewat ‘praktek pribadi’,” ujar seorang warga dengan nada getir.
Kasus ini menimbulkan sorotan tajam terhadap:
- DPRD Fakfak, yang reputasinya terancam tercoreng.
- Partai Golkar, yang menghadapi tekanan publik untuk memberikan klarifikasi atau sanksi.
- Masyarakat Fakfak, yang semakin kritis terhadap integritas pejabat publik.
Kasus penggerebekan ini akhirnya menyingkap satu hal yang tak terbantahkan: Tommy Rumagesan adalah sosok yang konsisten. Dari panggung politik hingga kamar kos, dari seragam kuning saat minta dicoblos hingga kaos kuning saat digerebek, warna partai tetap melekat sebagai identitas.
Namun, konsistensi itu justru menjadi bahan olok-olok publik. Alih-alih dikenang sebagai legislator yang memperjuangkan rakyat, Tommy kini diparodikan sebagai “dokter tanpa fakultas” yang sibuk menjalankan program kesehatan pribadi.
Lex Wu menutup komentarnya dengan satire getir:
- “Tommy itu hebat, konsisten sekali. Waktu minta dicoblos pakai kuning, waktu dicoblos juga pakai kuning. Kalau kesehatan itu utama, mungkin DPRD Fakfak harus segera membuka klinik khusus anggota dewan, biar tidak lagi ada praktek ‘alternatif’ di kamar kos.”
- “Penyiraman air keras itu, kata mantan Kepala BAIS, hanyalah bentuk kenakalan. Maka usaha Tommy menyuntikkan cairan asam dari dalam tubuh ke Bu bidan itu mungkin juga bagian dari kenakalan,” tambah Lex Wu dengan nada getir.
Dengan demikian, publik pun bertanya-tanya: apakah ini sekadar skandal pribadi, atau cermin dari betapa rapuhnya integritas politik di daerah? (sky)














