Banjir besar yang melanda Kampung Werfra, Distrik Furwagi, Kabupaten Fakfak, Papua Barat pada 10 Desember 2025 bukan sekadar bencana alam sesaat. Peristiwa ini membuka tabir kerentanan wilayah Fakfak terhadap kombinasi faktor iklim ekstrem, lemahnya infrastruktur mitigasi, dan tekanan pembangunan yang tidak terkendali.
Unggahan akun Facebook Chan’ox Ka menjadi pintu masuk publik untuk menyaksikan derasnya arus banjir yang menghantam kampung. Dokumentasi warga memperlihatkan air berlumpur mengalir deras, merendam rumah, balai kampung, dan fasilitas ibadah.
Kronologi dan Dampak
- Pagi hari: Hujan deras mengguyur Fakfak.
- Menjelang siang: Sungai meluap, air masuk ke pemukiman dengan cepat.
- Sore: Puluhan keluarga mengungsi ke dataran lebih tinggi.
- Malam: Jalur transportasi terputus, listrik padam di beberapa titik.
Dampak utama:
- Puluhan rumah terendam hingga setengah dinding.
- Balai kampung dan tempat ibadah rusak.
- Jalur darat terisolasi akibat genangan dan longsor kecil.
- Warga kehilangan harta benda, sebagian besar tidak sempat menyelamatkan barang.
Faktor Penyebab
Investigasi awal menunjukkan banjir di Werfra bukan hanya akibat curah hujan ekstrem, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor struktural:
- Curah Hujan Ekstrem BMKG mencatat adanya Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin yang memperkuat intensitas hujan di Papua Barat.
- Degradasi Lingkungan
- Alih fungsi lahan di sekitar sungai untuk kebun dan pemukiman mempersempit daerah resapan.
- Penebangan liar di hutan sekitar Werfra mempercepat erosi dan sedimentasi sungai.
- Infrastruktur Minim
- Tidak ada tanggul atau sistem drainase memadai.
- Jalur evakuasi terbatas, membuat warga kesulitan menyelamatkan diri.
Respons Pemerintah
Kepala Kampung Werfra, Alfred Hindom, menyebut banjir kali ini adalah yang terparah dalam sejarah kampung. Ia meminta bantuan segera dari pemerintah kabupaten untuk logistik dan posko darurat. Plt. Kepala Distrik Furwagi, Junaedi Pattisahusiwa, menegaskan koordinasi dengan BPBD Fakfak sedang dilakukan, namun akses menuju lokasi terhambat.
Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa, tetapi kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Dimensi Sosial dan Politik
Banjir Werfra menyoroti ketidakadilan geografis: wilayah pedalaman Papua Barat sering luput dari perhatian kebijakan pusat.
- Warga lokal bergantung pada solidaritas komunitas dan dokumentasi media sosial untuk menyuarakan kondisi darurat.
- Pemerintah daerah menghadapi dilema: keterbatasan anggaran mitigasi bencana versus tekanan pembangunan infrastruktur dan investasi.
Peristiwa ini menegaskan bahwa Fakfak berada di persimpangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
- Jika pola alih fungsi lahan dan lemahnya pengawasan lingkungan berlanjut, banjir serupa berpotensi menjadi rutin.
- Ketiadaan sistem mitigasi memperbesar risiko korban jiwa di masa depan.
- Dokumentasi warga melalui media sosial menjadi bukti penting, sekaligus tekanan moral bagi pemerintah untuk bertindak cepat.
Banjir besar di Kampung Werfra adalah alarm keras bagi Papua Barat. Bukan hanya soal curah hujan ekstrem, tetapi juga soal tata kelola lingkungan, infrastruktur, dan kebijakan pembangunan yang belum berpihak pada keselamatan warga.
MataAnginNews.co.id menegaskan bahwa investigasi lebih lanjut diperlukan untuk menelusuri:
- Apakah ada proyek atau aktivitas ekonomi yang memperburuk kondisi sungai?
- Bagaimana pemerintah daerah dan pusat merespons kerentanan iklim di Fakfak?
- Apa langkah nyata untuk memastikan kejadian ini tidak berulang?
Foto-Foto Kondisi Banjir :


















