MataAnginNews, Fakfak – Di tengah riuh rendah dinamika politik lokal, sosok Untung Tamsil, mantan Bupati Fakfak, memilih jalur yang berbeda. Ia menepi dari panggung kekuasaan, namun tidak menyepi dari pengabdian. Kini, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di laut, membangun usaha budidaya hasil laut dan memberdayakan ekonomi masyarakat pesisir.
Setelah masa jabatannya berakhir, Untung Tamsil tidak larut dalam hiruk-pikuk kontestasi politik. Ia justru memilih kembali ke akar kehidupan masyarakat Fakfak—laut, nelayan, dan usaha kecil. Di sela-sela aktivitas melaut, ia aktif membina kelompok usaha masyarakat, mendorong kemandirian ekonomi, dan membuka ruang bagi warga untuk tumbuh secara produktif.
“Saya menepi, bukan menyepi. Saya percaya, membangun Fakfak tidak hanya lewat jabatan, tapi juga lewat kerja nyata di tengah masyarakat,” ujar Untung Tamsil yang saat ini fokus budidaya rumput laut miliknya di pesisir Kokas.
Meski tidak lagi berada dalam struktur pemerintahan, Untung Tamsil tetap menunjukkan sikap negarawan. Ia mendukung penuh pemerintahan baru yang kini memimpin Kabupaten Fakfak, karena menurutnya, mimpi untuk mewujudkan Fakfak yang lebih maju, adil, dan sejahtera adalah mimpi bersama.
“Saya tidak dalam posisi mengomentari kebijakan pemerintahan sekarang. Saya percaya mereka punya niat baik. Saya memilih fokus di jalur ekonomi rakyat, karena itu juga bagian dari pembangunan,” tambahnya.
Langkah Untung Tamsil ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Banyak yang menilai bahwa sikapnya mencerminkan kedewasaan politik dan komitmen terhadap masyarakat Fakfak. Ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai satu-satunya alat pengabdian, melainkan terus merawat aspirasi masyarakat melalui jalur ekonomi dan pemberdayaan.
Kini, domain perjuangan Untung Tamsil bukan lagi ruang rapat birokrasi, melainkan dermaga, tambak, dan pasar lokal. Ia hadir sebagai pembina, pendamping, dan penggerak ekonomi kerakyatan. Dengan semangat yang sama seperti saat menjabat, ia tetap menjadi bagian dari cita-cita besar: Fakfak yang lebih baik.
PASTI Indonesia Apresiasi Untung Tamsil: Luka Politik Tak Menghapus Pengabdian
Dalam dinamika politik yang kerap diwarnai ketegangan dan perbedaan tajam, pernyataan terbaru dari PASTI Indonesia menjadi angin segar. Lembaga pemantau kebijakan publik ini menyampaikan apresiasi terhadap Untung Tamsil, mantan Bupati Fakfak, atas kontribusinya selama menjabat, meski keduanya pernah berada di posisi berseberangan secara politik.
Direktur PASTI Indonesia, Lex Wu, menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup mata terhadap kekurangan dalam masa pemerintahan Untung Tamsil. Namun, ia juga mengakui bahwa Untung Tamsil telah berbuat untuk masyarakat Fakfak, dan itu layak dihargai.
“Terlepas dari luka politik dan ‘baku hantam’ yang pernah terjadi antara kami dan Untung Tamsil, kami melihat beliau sebagai figur yang matang dalam berpolitik. Ia bisa membedakan antara persoalan politik dan persoalan kemasyarakatan,” ujar Lex Wu dalam pernyataan resminya.
Pernyataan ini muncul di tengah perubahan sikap Untung Tamsil yang kini memilih menepi dari urusan politik dan fokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ia aktif membangun usaha budidaya hasil laut dan mendampingi kelompok-kelompok usaha kecil di pesisir Fakfak.
Langkah tersebut dinilai oleh PASTI Indonesia sebagai bentuk kedewasaan politik dan komitmen terhadap pembangunan yang lebih inklusif. Meski tidak lagi berada dalam struktur pemerintahan, Untung Tamsil tetap mendukung pemerintahan baru karena menurutnya, mimpi untuk mewujudkan Fakfak yang lebih baik adalah mimpi bersama.
“Kami mengapresiasi sikap beliau yang tidak larut dalam konflik, tetapi memilih jalur pengabdian yang berbeda. Ini contoh bahwa politik tidak harus selalu soal kekuasaan, tapi bisa juga soal kebermanfaatan,” tutup Lex Wu. (QQ)








