MataAnginNews,Manokwari Selatan, Papua Barat β Di balik sunyi hutan, sabana, dan laut yang membentang di Manokwari Selatan, tersimpan kekayaan alam yang belum sepenuhnya disentuh oleh kebijakan pembangunan. Wilayah ini bukan hanya kaya secara geografis, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang dapat mengubah wajah Papua Barat jika dikelola dengan visi yang tepat.
Salah satu figur yang terus menyuarakan arah pembangunan berbasis kekayaan lokal adalah Dr. Frengki Mandacan. Meski tak lagi menjabat sebagai Kepala BPKAD atau Dinas Perikanan Mansel, Frengki tetap aktif menyusun gagasan, menyuarakan strategi, dan mendorong agar pembangunan dimulai dari kampung, bukan dari ruang rapat.
Meski tidak lagi menjabat sebagai Kepala BPKAD atau Dinas Perikanan Mansel, Frengki tetap hadir dalam ruang-ruang diskusi komunitas, menyampaikan ide-ide strategis yang relevan dengan kebutuhan riil masyarakat. Ia percaya bahwa pembangunan ekonomi bukan sekadar proyek, melainkan soal martabat dan kemandirian rakyat.
βJabatan bisa datang dan pergi. Tapi komitmen untuk membangun Mansel harus tetap hidup,β ujar Frengki dalam wawancara dengan MataAnginNews.
π Tanah yang Kaya: Potensi Alam Manokwari Selatan
Manokwari Selatan adalah wilayah yang diberkahi dengan lanskap yang beragam dan sumber daya yang melimpah:
-
Gunung Botak
: Sabana eksotis yang menyimpan potensi wisata alam dan konservasi berbasis masyarakat. Tempat ini bisa menjadi ikon ekowisata Papua Barat jika dikelola dengan pendekatan budaya dan keberlanjutan.
Gunung Botak: Lanskap Wisata dan Simbol Kemandirian
Terletak di Distrik Ransiki, Gunung Botak menawarkan panorama alam yang menakjubkanβhamparan savana hijau kekuningan, pemandangan laut Pasifik yang membentang luas, dan tebing-tebing dramatis yang mengarah ke pantai. Meski belum dikelola secara komersial, kawasan ini menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat, dengan konsep ekowisata dan konservasi.
Frengki Mandacan mendorong agar pengembangan wisata alam seperti Gunung Botak dilakukan dengan melibatkan investor lokal dan nasional, tanpa terus bergantung pada APBD Mansel.
-
Panas Bumi Momiwaren
: Sumber energi bersih yang belum digarap maksimal. Frengki mendorong agar potensi ini dikembangkan melalui investasi strategis yang melibatkan masyarakat adat sebagai pemilik tanah dan penjaga ekosistem.
Energi Panas Bumi: Sumber Daya Terpendam di Momiwaren
Distrik Momiwaren menyimpan potensi energi panas bumi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik berbasis binary cycle. Frengki menekankan bahwa pengelolaan sumber daya ini harus dilakukan melalui kemitraan strategis dengan investor, dengan prinsip keberlanjutan dan keterlibatan masyarakat adat.
βKita harus berani keluar dari pola lama. APBD bukan satu-satunya sumber pembangunan. Mansel punya modal alam yang bisa dikelola secara mandiri dan adil,β tegas Frengki.
-
Laut Selatan dan Teluk Wondama
: Wilayah perairan yang kaya akan hasil laut, cocok untuk industri pengolahan ikan, rumput laut, dan produk turunan berbasis ekspor. Frengki menekankan pentingnya koperasi nelayan dan sistem distribusi yang adil.
Kekayaan Laut dan Potensi Maritim Sekitar Mansel
Manokwari Selatan berada dalam jalur strategis yang berdekatan dengan Teluk Wondama dan Biak Numfor, dua kawasan yang dikenal memiliki kekayaan laut luar biasa. Perairan Biak, misalnya, menghasilkan lebih dari 1 juta ton ikan tuna segar per tahun, dengan potensi ekspor ke Jepang dan Amerika Serikat. Sementara Teluk Wondama menyimpan ekosistem laut yang kaya, termasuk terumbu karang, padang lamun, dan habitat ikan duyung.
Potensi ini membuka peluang besar bagi Mansel untuk membangun sentra perikanan terpadu, koperasi nelayan, dan industri pengolahan hasil laut yang melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama.
-
Tanah subur di distrik Ransiki dan Oransbari
: Cocok untuk pengembangan kakao, pala, dan komoditas lokal lainnya. Frengki mendorong agar UMKM dan koperasi petani diberi akses modal dan pelatihan agar bisa naik kelas.
π‘ Gagasan Frengki Mandacan: Membangun dari Potensi, Bukan dari Seremoni
Frengki Mandacan tidak bicara soal proyek mercusuar. Ia bicara tentang pasar kampung, tentang koperasi, tentang energi bersih, dan tentang sistem ekonomi yang berpihak pada rakyat. Ia mendorong agar pembangunan dilakukan melalui:
- Revitalisasi pasar lokal sebagai pusat ekonomi rakyat
- Kemitraan strategis dengan investor, bukan sekadar kontrak, tapi perjanjian yang menjamin hak masyarakat
- Penguatan UMKM dan koperasi di sektor pertanian dan perikanan
- Pengembangan wisata alam dan budaya yang melibatkan komunitas lokal sebagai pelaku utama
π§ Pandangan PASTI Indonesia dan Harapan untuk Pemprov Papua Barat
Dalam Wawancara dengan Lex Wu dari PASTI Indonesia, Lex Β menilai bahwa Papua Barat membutuhkan figur yang memahami akar persoalan dan berani menawarkan solusi. Frengki Mandacan dinilai sebagai aset intelektual dan sosial yang dapat menjadi mitra strategis Pemprov Papua Barat dalam menghidupkan ekonomi lokal berbasis kekayaan alam.
βPapua Barat tidak kekurangan sumber daya, tapi kekurangan figur yang berani dan paham akar persoalan. Frengki Mandacan adalah salah satu dari sedikit yang punya keduanya,β tutup Lex Wu.
Dalam konteks ini, Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, sepatutnya dapat melihat potensi Frengki Mandacan sebagai pilar pembangunan ekonomi lokal yang mampu menjembatani antara kekayaan alam, kebutuhan masyarakat, dan arah kebijakan provinsi.
Frengki adalah contoh bahwa kepemimpinan tidak selalu datang dari kursi kekuasaan. Ia hadir dari ruang diskusi, dari pasar, dari kampung, dan dari hati masyarakat yang ingin perubahan nyata.
β Tanpa Jabatan, Tapi Menjabat di Hati Rakyat
Frengki Mandacan adalah contoh bahwa kepemimpinan tidak selalu datang dari kursi kekuasaan. Ia hadir dari tanah, dari laut, dari sabana, dan dari suara rakyat yang ingin perubahan nyata. Jika Papua Barat ingin membangun dari potensi yang nyata, maka figur seperti Frengki bukan sekadar dibutuhkanβia mendesak untuk diikutsertakan dalam arus kebijakan. (QQ)








