Jakarta, 17 Juni 2026 – Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian – Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) hari ini merayakan usia ke-80. Delapan dekade perjalanan panjang lembaga ini telah menjadikannya sebagai kawah candradimuka bagi para Bhayangkara, tempat lahirnya perwira-perwira berilmu, berintegritas, dan berperadaban.
Perayaan ini tidak hanya menjadi milik keluarga besar Polri, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat luas. Dari Papua Barat, banjir ucapan selamat datang dari tiga tokoh penting: Gubernur Papua Barat, Sekretaris Daerah Papua Barat, dan Kapolda Papua Barat Daya. Ucapan mereka bukan sekadar formalitas, melainkan refleksi mendalam tentang peran STIK-PTIK bagi bangsa dan daerah.
Dominggus Mandacan: Harapan Humanis untuk Papua

Ucapan pertama datang dari Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., Gubernur Papua Barat yang dikenal sebagai Sang Fajar dari Gunung Arfak. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa STIK-PTIK adalah “Rumah Ilmu dan Peradaban Bhayangkara” yang terus menjadi kebanggaan masyarakat.
“Dengan kedewasaan usia, STIK-PTIK diharapkan mampu melahirkan banyak perwira kompeten, terutama untuk penempatan di Papua. Mengingat kultur dan budaya Papua yang khas, maka pendekatan Polri yang humanis sangat diperlukan agar masyarakat merasa dilindungi dan dihargai,” ujarnya.
Ucapan ini mencerminkan harapan besar agar STIK-PTIK tidak hanya mencetak perwira tangguh, tetapi juga perwira yang mampu memahami kearifan lokal Papua. Dengan pendekatan humanis, Polri diharapkan menjadi sahabat masyarakat, bukan sekadar aparat penegak hukum.
Ali Baham Temongmere: Sinergi Pemerintah dan Polri

Tak ketinggalan, Drs. H. Ali Baham Temongmere, MTP, Sekretaris Daerah Papua Barat sekaligus Mantan Penjabat Gubernur Papua Barat periode 2023–2025, yang dijuluki Cahaya dari Balik Gunung Mbaham-Matta. Ia menyampaikan harapan agar STIK-PTIK tetap konsisten dalam mengawal nilai Rastra Sewakotama dan menjadi teladan bagi generasi Bhayangkara.
“STIK-PTIK harus terus melahirkan figur-figur perwira berkompeten yang dapat melaksanakan tugas kepolisian dengan baik. Pemerintah daerah dan penegak hukum adalah mitra, sehingga sinergi dalam membangun Papua sangat diperlukan,” tegasnya.
Pernyataan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Sinergi tersebut diyakini menjadi kunci dalam membangun Papua yang aman, damai, dan sejahtera. Dengan lahirnya perwira-perwira baru dari STIK-PTIK, diharapkan hubungan antara pemerintah dan Polri semakin erat dalam menjaga stabilitas dan pembangunan daerah.
Brigjen Pol Gatot Haribowo: Mencerdaskan Insan Sadar Hukum

Sementara itu, dari jajaran kepolisian, Brigjen Pol Gatot Haribowo, S.I.K., M.AP, Kapolda Papua Barat Daya, turut memberikan ucapan selamat. Ia menekankan bahwa STIK-PTIK harus terus “Semakin Sukses dan Tetap Menjadi Kebanggaan Polri dan Masyarakat”.
“Semoga STIK-PTIK semakin sukses dan tetap menjadi kebanggaan Polri dan masyarakat dalam mencerdaskan insan agar semakin sadar hukum,” ungkapnya.
Harapan Kapolda ini menekankan peran STIK-PTIK sebagai pusat pendidikan hukum dan kepolisian yang mampu mencerdaskan masyarakat. Dengan semakin banyak insan sadar hukum, diharapkan tercipta masyarakat yang tertib, taat aturan, dan menjunjung tinggi nilai keadilan.
Sejarah Singkat STIK-PTIK
- 1945: Setelah Proklamasi, dibentuk Badan Kepolisian Negara. Kepala Kepolisian pertama adalah R.S. Soekanto.
- 17 Juli 1946: Pemerintah menetapkan Jawatan Kepolisian Negara, yang kemudian diperingati sebagai Hari Bhayangkara.
- 17 Juni 1946: Dibentuk Sekolah Kepolisian Negara di Mertoyudan, cikal bakal STIK-PTIK.
- 1950: Berdasarkan SK Perdana Menteri No. 47/PM/II/50, nama resmi berubah menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).
- 1954: Pendidikan dibagi menjadi dua bagian: persiapan (3 tahun) dan keahlian (2 tahun).
- 1963–1971: Kampus berpindah dari Yogyakarta ke Jakarta, lalu ke Ciputat, sebelum menetap di Jl. Tirtayasa No. 6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
- 1976: PTIK resmi berada di bawah kendali Kapolri sebagai lembaga pendidikan struktural.
- 1980: Berdasarkan SK Bersama Mendikbud dan Kapolri, PTIK ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Kedinasan Kepolisian Republik Indonesia.
Makna Dirgahayu ke-80 STIK-PTIK
Rangkaian ucapan dari para tokoh Papua Barat menunjukkan bahwa STIK-PTIK bukan sekadar institusi pendidikan kepolisian, melainkan simbol kebanggaan, persatuan, dan dedikasi dalam membangun bangsa.
Dirgahayu ke-80 STIK-PTIK menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang lembaga ini dalam mencetak kader Bhayangkara yang berilmu, berintegritas, dan berperadaban. Lebih dari itu, usia ke-80 adalah penegasan bahwa STIK-PTIK telah menjadi rumah ilmu, pusat peradaban, sekaligus mercusuar harapan bagi masyarakat Indonesia, khususnya Papua. (qq)














