“Kami bukan pemberontak. Kami adalah manusia yang ingin dihormati.” — Kutipan dari buku Papua: Di Antara Rasisme & Diskriminasi
Di negeri yang mengaku bhinneka, Papua masih diperlakukan sebagai “yang lain.” Bukan karena mereka berbeda, tetapi karena sistem telah lama menolak untuk melihat mereka sebagai bagian yang setara. Rasisme terhadap orang Papua bukan sekadar insiden, melainkan pola. Diskriminasi bukan sekadar prasangka, melainkan struktur.
🧠 Fakta Utama
- 7 dari 10 orang Papua pernah mengalami diskriminasi rasial di luar Papua.
- Aktivis Papua lebih sering dikriminalisasi dibanding aktivis dari daerah lain.
- Media arus utama menyebut Papua sebagai “rawan konflik” tanpa menyebut akar ketidakadilan.
🔥 Jenis Diskriminasi yang Dihadapi
| Bidang | Bentuk Diskriminasi |
|---|---|
| Pendidikan | Stereotip “bodoh” dan pengabaian fasilitas |
| Hukum | Kriminalisasi dan standar ganda |
| Media | Framing negatif dan penghapusan identitas |
| Sosial | Ejekan fisik dan pengucilan budaya |
✊ Apa yang Papua Inginkan?
- Pengakuan atas martabat dan identitas
- Perlakuan hukum yang adil
- Representasi media yang jujur
- Ruang politik yang setara
Buku Papua: Di Antara Rasisme & Diskriminasi karya Nicodemus Rahayaan, yang dieditori oleh Arlex Long Wu, adalah suara dari dalam luka. Ia bukan sekadar refleksi, tetapi juga perlawanan. Buku ini menyajikan testimoni, kajian, dan seruan moral dari masyarakat Papua yang selama ini dibungkam oleh narasi dominan.
Sebagai media yang berpihak pada kebenaran, Mata Angin News telah lama ikut bersuara dalam isu Papua. Melalui berbagai investigasi, liputan mendalam, dan karya jurnalistik yang berani, kami menolak tunduk pada framing yang menyederhanakan Papua sebagai “daerah konflik.” Kami memilih untuk melihat Papua sebagai komunitas manusia yang berdaulat, bermartabat, dan berhak atas keadilan.
Kami pernah menurunkan laporan tentang kriminalisasi aktivis Papua, tentang bias media nasional, dan tentang represi terhadap kebebasan sipil di tanah yang kaya akan budaya dan sejarah. Kami menyaksikan bagaimana aparat menutup ruang ekspresi, bagaimana suara-suara lokal dibungkam, dan bagaimana luka terus dibiarkan terbuka.
Buku ini memperkuat apa yang selama ini kami suarakan: bahwa Papua tidak butuh belas kasihan, tetapi keadilan. Bahwa pembangunan tanpa pengakuan identitas adalah bentuk lain dari penindasan. Bahwa netralitas dalam menghadapi ketidakadilan adalah keberpihakan pada penindas.
Gereja, media, dan masyarakat sipil harus berani mengambil posisi. Kita tidak bisa membangun Indonesia yang utuh jika kita terus membiarkan Papua berdarah dalam diam.
“Papua bukan objek pembangunan. Papua adalah subjek perjuangan.” — Mata Angin News
Kami mengajak publik untuk membaca buku ini, mendalami isinya, dan menjadikannya bahan refleksi nasional. Kami juga mengajak media lain untuk tidak takut bersuara. Karena suara Papua adalah suara kita semua—suara tentang martabat, tentang hak, dan tentang kemanusiaan.
📘 Buku
📗 Papua: Di Antara Rasisme & Diskriminasi ✍️ Nicodemus Rahayaan | 🖋️ Editor: Arlex Long Wu 📍 Tersedia di komunitas, jaringan aktivis, dan media independen.









