MataAnginNews,Manokwari, 12 Oktober 2025 — Dua puluh enam tahun Papua Barat berdiri sebagai provinsi yang berdaulat. Namun baru dalam satu dekade terakhir, cahaya pembangunan benar-benar menembus lembah-lembah, pesisir, dan puncak-puncak gunungnya. Di balik cahaya itu, berdiri tiga tokoh utama: Dominggus Mandacan, Mohammad Lakotani, dan Ali Baham Temongmere—tiga serangkai yang menjadi perpanjangan tangan Pemerintah Pusat dalam mewujudkan Papua Barat yang cerdas, produktif, dan berkeadilan.
Dominggus Mandacan: Sang Fajar dari Gunung Arfak
Ia adalah pemimpin yang tidak hanya memerintah, tetapi membangkitkan. Putra Arfak ini memimpin dengan kelembutan yang tegas, dengan hati yang berpijar oleh cinta tanah leluhur. Dalam dirinya, rakyat melihat fajar yang membelah kabut sejarah.
- Gubernur dua periode (2017–2022, 2025–2030) dengan legitimasi 92,8% suara.
- Deklarator Provinsi Konservasi pertama di Indonesia, menjadikan Papua Barat sebagai pelopor perlindungan alam berbasis masyarakat adat.
- Pengusul 9 program infrastruktur strategis, termasuk gedung DPRPB, pusat layanan kanker-jantung-stroke, dan Jembatan Inari.
- Peluncur program Papua Barat Cerdas & Produktif, menjangkau 1.200 sekolah dan 3.000+ UMKM.
Mohammad Lakotani: Senja dari Kaimana yang Menyempurnakan Cahaya
Ia adalah ketenangan yang menyempurnakan arah. Lahir di Kaimana, Mohammad Lakotani membawa suara selatan Papua Barat ke pusat kekuasaan. Ia adalah pemimpin yang mendengar, merangkul, dan menyatukan.
- Wakil Gubernur dua periode (2017–2022, 2025–2030).
- Pengawal pembangunan wilayah selatan, termasuk Jembatan Inari sebagai simpul konektivitas.
- Pengusung kebudayaan sebagai fondasi pembangunan, aktif dalam dialog masyarakat adat dan kebijakan berbasis nilai lokal.
- Pemimpin yang menyatukan tokoh agama, adat, dan pemuda, menjaga stabilitas sosial demi kelancaran pembangunan.
Ali Baham Temongmere: Cahaya Fajar dari Balik Mbaham-Matta
Ia adalah penjaga arah dan penerjemah visi. Sebagai mantan Wakil Gubernur dan Penjabat Gubernur, Ali Baham adalah arsitek kebijakan partisipatif yang menenun harmoni dalam pemerintahan.
- Penjabat Gubernur Papua Barat (2023–2025) dan kini Sekda Provinsi.
- Pengusung komunikasi efektif dalam kebijakan anggaran, menjembatani rakyat dan birokrasi dengan transparansi.
- Pendorong pelibatan pengusaha OAP dalam kebijakan ekonomi, memastikan inklusi dalam setiap program pembangunan.
- Pemimpin yang menyuarakan persaudaraan politik dan demokrasi damai, menjaga iklim sosial menjelang Pemilu.
Dari Aspirasi Menjadi Provinsi: Sejarah Lahirnya Papua Barat
Papua Barat tidak lahir dari sekadar garis batas administratif. Ia lahir dari sejarah panjang perjuangan, dari suara rakyat yang ingin didengar, dari tanah yang ingin dihormati, dan dari identitas yang ingin ditegakkan.
Jejak Sejarah yang Dalam
Sebelum menjadi provinsi, wilayah yang kini dikenal sebagai Papua Barat adalah bagian dari Provinsi Irian Jaya. Namun, sejak awal reformasi, aspirasi untuk mendekatkan pelayanan dan memperkuat kedaulatan lokal mulai menggema dari pegunungan Arfak hingga pesisir Kaimana.
Pada 4 Oktober 1999, Pemerintah Pusat menerbitkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999, yang menetapkan pembentukan Provinsi Irian Jaya Barat. Namun, jalan menuju pengakuan tidaklah mulus. Penolakan muncul dari berbagai kalangan, termasuk tokoh adat dan gereja, yang khawatir pemekaran dilakukan tanpa konsultasi yang bermakna.
Selama bertahun-tahun, status provinsi ini berada dalam ketidakpastian hukum. Mahkamah Konstitusi bahkan sempat menyatakan bahwa dasar hukum pembentukannya tidak mengikat. Namun, rakyat tidak menyerah. Aspirasi terus dijaga, diperjuangkan, dan disuarakan.
Akhirnya, pada 18 April 2007, Pemerintah mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007, yang menetapkan nama resmi Provinsi Papua Barat dan mengukuhkan keberadaannya secara konstitusional. Sejak saat itu, Papua Barat berdiri tegak sebagai provinsi ke-33 Republik Indonesia, dengan Manokwari sebagai ibu kota.
Makna Kelahiran Papua Barat
Lahirnya Papua Barat adalah simbol dari tiga hal:
- Dekatnya negara dengan rakyat, melalui pelayanan yang lebih cepat dan tepat.
- Pengakuan terhadap keunikan budaya dan adat Papua, yang tak bisa diseragamkan.
- Komitmen terhadap pembangunan yang adil dan berkelanjutan, dengan masyarakat adat sebagai subjek utama.
Papua Barat bukan hanya wilayah administratif. Ia adalah rumah bagi ratusan suku, bahasa, dan tradisi. Ia adalah tanah yang kaya akan hutan, laut, dan sumber daya, namun lebih dari itu: kaya akan nilai, martabat, dan semangat hidup bersama.
Momentum 26 Tahun: Menengok ke Belakang, Melangkah ke Depan
Kini, di usia ke-26, Papua Barat telah menempuh perjalanan luar biasa. Dari provinsi yang sempat diragukan legalitasnya, kini menjadi pelopor konservasi, pengakuan adat, dan pembangunan partisipatif. Di bawah kepemimpinan Dominggus Mandacan, Mohammad Lakotani, dan Ali Baham Temongmere, Papua Barat tidak hanya dibangun—ia dibangkitkan.
Doa dan Harapan Rakyat Papua Barat
“Semoga cahaya pembangunan tidak pernah padam. Semoga pemimpin kami terus diberi kekuatan, kebijaksanaan, dan keberanian untuk menjaga tanah ini dengan cinta dan keadilan.”
“Kami percaya, selama fajar tetap menyala di Arfak, senja bersinar di Kaimana, dan cahaya berpijar dari Mbaham-Matta—Papua Barat akan terus bangkit, tumbuh, dan bersinar.”
Sang Fajar dari Gunung Arfak telah membuka jalan. Senja dari Kaimana menyempurnakan arah. Cahaya dari Mbaham-Matta menerangi langkah. Bersama, mereka bukan hanya membangun Papua Barat—mereka membangkitkannya. (Sky)








