Jayapura, MataAnginNews.co.id — Malam kelabu itu, Rabu 13 November 2024, jalan raya Abepura menjadi saksi bisu tragedi. Mobil Toyota Hilux PA 89 DB melaju kencang, keluar jalur, lalu menghantam tiga sepeda motor. Jeritan, dentuman, dan tubuh yang terhempas menandai detik-detik maut. Di antara korban, seorang perempuan tangguh bernama Annie Telly A. Mambrasar — PNS sekaligus apoteker, tulang punggung keluarga — berjuang melawan pendarahan hebat.
Namun perjuangan itu berakhir. Kamis, 14 November 2024, pukul 21.45 WIT, Annie menghembuskan napas terakhir. Bagi keluarga Mambrasar, dunia runtuh. “Dia bukan hanya anak, dia adalah harapan kami, penopang hidup kami,” lirih ibunya, Leonora Rumsowek, dengan mata yang tak pernah kering dari air mata.
Diam yang Menyakitkan
Keluarga Mambrasar tidak hanya berduka karena kehilangan. Mereka juga merasa dikhianati oleh sikap pejabat publik. Mobil Hilux yang menabrak Annie adalah milik Denny Henry Bonai, Ketua DPR Provinsi Papua dari Partai Golkar. Namun hingga kini, tidak ada ucapan belasungkawa, tidak ada permintaan maaf, tidak ada perhatian.
“Seorang pejabat publik seharusnya hadir, setidaknya mengucapkan belasungkawa. Tapi yang kami terima hanyalah keheningan. Diam yang menyakitkan,” tegas keluarga dalam surat resmi kepada Dewan Adat Byak Tanah Tabi.
Yang jadi persoalan, ditegaskan keluarga, bukan pada nilai ganti rugi. Luka terdalam justru muncul karena tidak ada tanggapan awal, tidak ada perhatian, ketika Annie masih berjuang di rumah sakit. “Seolah-olah anak kami bukan manusia, melainkan binatang yang ditabrak. Tidak ada permohonan maaf sampai malam ini. Karena itu kami mengambil langkah ini, agar beliau sadar bahwa diam bukanlah pilihan,” ungkap keluarga dengan nada getir.
Sidang Adat: Nyawa yang Dihargai, Empati yang Hilang
Sidang adat Byak menetapkan kewajiban pembayaran adat sebesar Rp 2 miliar. Namun keluarga Mambrasar menuntut Rp 10 miliar, bukan semata soal uang, melainkan simbol penghargaan atas nyawa Annie.
“Nyawa anak kami tidak bisa diganti dengan uang. Tapi tuntutan ini adalah cara kami menegaskan bahwa hidup Annie berharga, dan tidak boleh diremehkan,” kata salah satu kerabat.
Namun di balik angka-angka itu, ada yang lebih menyakitkan: ketiadaan empati. Tidak ada kehadiran pejabat publik yang seharusnya berdiri di garis depan, memberi perhatian, mengulurkan tangan, atau sekadar mengucapkan belasungkawa.
Air Mata yang Tak Pernah Kering
Di rumah keluarga Mambrasar, foto Annie dengan senyum hangat terpajang di ruang tamu. Ibunya sering duduk menatap foto itu, seakan berbicara dengan anak yang sudah tiada. “Dia selalu bilang akan membahagiakan kami. Tapi sekarang, kami hanya bisa menangis,” ucap sang ibu.
Adik-adiknya masih sulit menerima kenyataan. Mereka kehilangan sosok kakak yang selalu menuntun, mendukung, dan menjadi teladan. “Kakak adalah cahaya kami. Sekarang cahaya itu padam,” kata adiknya lirih.
Air mata keluarga Mambrasar kini bukan sekadar tanda duka. Ia adalah dakwan moral terhadap pejabat publik yang memilih diam. Diam yang menyingkap jurang antara jabatan dan kemanusiaan.
Pertanyaan yang Menggantung
Tragedi ini bukan hanya soal kecelakaan lalu lintas. Ini adalah cermin retak tentang bagaimana pejabat publik Papua memperlakukan rakyatnya. Ketika hukum telah berjalan, tetapi hati nurani tak bergerak, maka luka sosial akan terus menganga.
Keluarga Mambrasar menutup pernyataan mereka dengan kalimat yang mengguncang: “Nyawa anak kami hilang. Tapi yang lebih menyakitkan adalah hilangnya rasa kemanusiaan dari mereka yang seharusnya menjadi panutan.” (admin)








