MataAnginNews, Manokwari – Dalam pusaran dinamika politik dan kelembagaan Papua Barat, suara moral kembali bergema dari Direktur PASTI Indonesia, Lex Wu. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari banyaknya jabatan yang disandang, melainkan dari kemampuan seorang pemimpin untuk menempatkan diri secara arif dan membuka jalan bagi orang lain untuk mengabdi.
Papua Barat sedang berada di persimpangan sejarah. Di tengah riak politik yang kerap dikaitkan dengan Pilkada 2030 atau kepentingan partai besar seperti NASDEM dan Gerindra, Direktur PASTI Indonesia, Lex Wu, menegaskan bahwa isu KONI Papua Barat bukan soal politik praktis, melainkan soal jalan pengabdian bagi anak-anak negeri dan kearifan orang tua dalam membuka ruang.
“Aturan memang tidak melarang, tetapi kebijaksanaan seorang pemimpin menuntut lebih dari sekadar hak. Sebagai ‘orang tua’, Wagub wajib membuka jalan, bukan berebut peran. KONI adalah ruang pengabdian, bukan panggung ambisi,” ujar Lex Wu dengan nada tajam namun penuh kelembutan.
Orang Tua Wajib Membuka Jalan
Lex Wu menekankan bahwa seorang Wakil Gubernur, yang masih memegang amanah besar sebagai Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Papua Barat, harus menempatkan diri sebagai pembimbing. Ia bukan pesaing bagi “anak-anak” yang ingin mengabdi, melainkan penuntun yang memberi kesempatan.
“KONI adalah wadah bagi energi anak-anak bangsa. Di sanalah semangat olahraga, disiplin, dan karakter ditempa. Orang tua yang arif tidak menutup jalan, melainkan memberi ruang bagi anak-anaknya untuk berperan,” tegas Lex Wu.
Dengan demikian, tidak ada tumpang tindih jabatan. Wagub bisa fokus menjalankan amanah pemerintahan DOAMU Jilid 2 dan membenahi Pramuka, sementara KONI menjadi ruang pengabdian bagi figur-figur lain yang siap berkontribusi.
Pramuka: Amanah yang Harus Diperkuat
Lex Wu mengingatkan bahwa Pramuka Papua Barat masih membutuhkan pembenahan serius. Pramuka adalah pilar karakter bangsa, tempat nilai kejujuran, disiplin, dan cinta tanah air ditempa.
“Wagub masih punya tanggung jawab besar di Pramuka. Jangan biarkan amanah itu terbengkalai karena ambisi baru. Pramuka harus dibersihkan, diperkuat, dan dikembalikan ke marwahnya sebagai benteng moral generasi muda Papua Barat,” ujarnya.
Yosias Saroy: Figur yang Layak Memimpin KONI Papua Barat
Dalam pandangan Lex Wu, Yosias Saroy adalah figur yang pantas memimpin KONI Papua Barat. Sebagai mantan Bupati Arfak dua periode, Yosias telah menunjukkan kepemimpinan yang matang, berpengalaman, dan berorientasi pada pembangunan manusia.
“Yosias Saroy adalah contoh nyata figur yang telah selesai dengan panggung politik, tetapi masih memiliki energi untuk mengabdi. Ia memahami nilai perjuangan, disiplin, dan karakter — hal-hal yang menjadi jiwa dari olahraga,” kata Lex Wu.
Namun Lex Wu menegaskan, bukan hanya Yosias, tetapi siapa pun yang mumpuni dan memiliki semangat pengabdian harus diberi ruang. KONI harus menjadi rumah bagi mereka yang ingin mengabdi, bukan panggung bagi mereka yang ingin menambah jabatan.
Lex Wu menutup pandangannya dengan kalimat yang menggugah:
“Ini bukan soal 2030, bukan soal NASDEM atau Gerindra. Ini soal jalan pengabdian bagi anak-anak negeri, dan soal kearifan orang tua yang membuka ruang. Aturan memang tidak melarang, tetapi hati nurani pemimpin harus tahu batas. Orang tua yang bijak tidak berebut peran, melainkan memberi jalan bagi anak-anaknya untuk mengabdi. Itulah tanda kebesaran jiwa seorang pemimpin.”
pesan ini menegaskan bahwa Papua Barat membutuhkan kepemimpinan yang arif, bukan ambisius. Sejarah tidak akan mengingat siapa yang merebut kursi, tetapi siapa yang memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk mengabdi. (qq)








