MataAnginNews, Manokwari – Papua Barat sedang berada di panggung sejarah yang menentukan. Pemerintahan DOAMU Jilid 2 bukan sekadar kelanjutan kekuasaan, melainkan ujian sejati: apakah kepemimpinan akan dikenang sebagai pengabdian, atau justru tercatat sebagai ambisi pribadi.
Dalam pandangan Direktur PASTI Indonesia, Lex Wu, seorang Wakil Gubernur harus menempatkan dirinya sebagai “orang tua”. Sebagai orang tua, tugas utamanya bukanlah merebut panggung baru, melainkan membimbing dan membuka jalan bagi “anak-anak” — figur-figur yang mumpuni, berpengalaman, dan memiliki semangat untuk mengabdi melalui KONI Papua Barat.
“KONI adalah ruang pengabdian, bukan arena politik. Di sanalah energi anak-anak bangsa bisa disalurkan untuk membangun olahraga dan karakter masyarakat Papua Barat. Sepantasnya Wagub membuka jalan, bukan menutupnya,” ujar Lex Wu dengan nada tegas namun penuh kebijaksanaan.
Pramuka: Amanah yang Belum Tuntas
Lex Wu menegaskan bahwa Pramuka Papua Barat adalah pilar karakter bangsa. Di sanalah generasi muda ditempa dengan disiplin, kebersamaan, dan cinta tanah air. Namun, perjalanan Pramuka tidak selalu mulus. Ada catatan masa lalu yang menimbulkan sorotan publik, mulai dari pengelolaan dana hingga dinamika internal yang memberi kesan bahwa Pramuka sempat terseret dalam kepentingan politik.
“Pramuka adalah sekolah kehidupan, bukan alat politik. Wagub lebih tepat berbenah di Pramuka, membersihkan luka masa lalu, dan meneguhkan kembali marwahnya sebagai benteng moral generasi muda,” tegas Lex Wu.
Teguran halus ini sesungguhnya adalah pengingat: jangan sampai ambisi baru menutupi amanah lama yang belum tuntas. Seorang pemimpin akan dikenang bukan karena kursi yang direbut, melainkan karena nilai yang ditanam.
- Terindikasi Paksa Gelar MusdaLub Kwarda Papua Barat, Kepentingan Selamatkan Pramuka Atau Punya Agenda Tersembunyi?
- Lakotani Gugat Musda Kwarda Gerakan Pramuka PB, Post Power Syndrome atau Kejar Kendaraan Politik?
KONI: Jalan Pengabdian bagi Figur-figur Mumpuni
Lex Wu menekankan bahwa KONI harus menjadi wadah bagi siapa pun yang mempunyai kemampuan nyata dalam memajukan olahraga Papua Barat. Tidak hanya nama besar seperti Yosias Saroy atau Markus Waran, tetapi juga figur-figur lain yang memiliki keahlian, pengalaman, dan komitmen untuk mengabdi.
Dengan memberi ruang kepada mereka, KONI akan menjadi jalan pengabdian yang mulia. Sementara itu, Wagub MOLA dapat lebih fokus pada tugas utamanya: mendampingi Gubernur dalam pemerintahan DOAMU Jilid 2. Pembagian peran ini bukan hanya meringankan beban kepemimpinan, tetapi juga memastikan pembangunan daerah berjalan dengan kokoh dan terarah.
Lex Wu menutup pandangannya dengan pesan reflektif yang menggugah:
“Periode kedua ini bukan panggung ambisi, melainkan panggung pengabdian. Wagub harus fokus mendampingi Gubernur, membenahi Pramuka, dan membuka jalan bagi siapa pun yang ingin mengabdi lewat KONI. Itulah tanda kebijaksanaan seorang ‘orang tua’ dalam kepemimpinan.” (qq)








